Recognizing... Sharing...
& Being aware of the blessings
outside the table.

Senin, Oktober 27, 2008

MENYUMPAHI PEMUDA

Oleh: Y. Budi U*


Wacana kaum muda dalam kepemimpinan nasional menjadi pusaran polemik sekaligus kecemasan. Identifikasi "muda" pada keluguan, kurang pengalaman, dan emosional menopang kemapanan status quo, yang didominasi kaum "tua". Konstelasi pemikiran ini mengarah pada ukuran-ukuran statistikal, seperti usia, jenjang pendidikan, jenis kelamin, status, job karier. Alhasil, sebagian kaum "tua" serta merta kelabakan ketika sebagian kaum muda menyerukan pembaharuan.


Ikatan kebangsaan

Sumpah Pemuda 1928? Sumpah setia yang diucapkan para pemuda dengan beragam asal kesukuan itu justru lahir karena adanya dorongan "pemersatuan" dalam ikatan kebangsaan. "Indonesia Moeda" yakni Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond (beberapa wakilnya berketurunan Tionghoa: Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong), dan Jong Islamieten Bond berbaur dalam langkah yang sama; menuju kemerdekaan Indonesia yang bermartabat. Meski berbeda, tapi semangat bersatu telah sedemikian membara pada para tokoh Indonesia Muda.


Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,

Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,

Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,

Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.


Sumpah setia Indonesia Muda itu bukanlah pernyataan mati, namun dinamis dan dihidupi hingga kemerdekaan mencapai puncaknya. Harus diakui bahwa pernyataan itu bukan sekadar pernyataan retorik. Hal itu sedikit berbeda sebagaimana dihayati dalam deklarasi parpol/pilkada "siap menang siap kalah". Faktanya, tidak sedikit yang meradang karena kekalahan, dengan segala macam alasan bersifat apologetis. Chaos pun tak terhindarkan. Dan, pernyataan politik damai menguap diserap oleh ketidakpuasan yang meledak.

Kemauan kaum muda dalam sumpah pemuda menunjukkan kecerdasan perjuangan, yang tidak semata mengutamakan kepentingan pribadi/golongan. Aspirasi politik diletakkan dengan sangat baik dalam koridor pencapaian kemerdekaan.


Berprestasi

Sepantasnya kita malu jika harus bertengkar karena berebut jati diri. Tawuran pelajar atau mahasiswa adalah salah satu kegagapan kaum muda pada tuntutan intelektualias sekaligus moralitas yang dihadapkan pada ketimpangan realitas. Sekarang sudah waktunya untuk terus melangkah dalam aplikasi dan prestasi. Buktikan dengan kerja keras segala kemampuan, dan kompetensi.

Di sisi lain, aspirasi regenerasi selalu baik dilakukan dalam usaha pembelajaran. Muda juga bukan semata diukur dari usia, yang selalu dianggap berbanding lurus dengan minimnya kecakapan atau pengalaman. Kaum tua yang sudah terlanjur nyaman dengan kekuasaan dan status quo, sudah waktunya menelaah diri. Setidaknya, memberi ruang yang sehat pada kaum muda agar sanggup berdiri tanpa sumpah serapah bernada iri hati.

Janganlah terburu nafsu untuk menyumpahi pemuda secara apriori. Sumpahi saja mereka agar terus berprestasi! Supaya di dalam dadanya tumbuh bunga krisan kejayaan negeri!


Hidup Pemuda Indonesia!


*Y. Budi U, Ketua Komunitas Studi Inspicio-Jakarta (lih juga di http://budut78.wordpress.com )



Rabu, Juli 30, 2008

Acting White?

Rasa-rasanya, hal-hal yang berbau Barat—makanan Barat, pola pikir Barat, fashion Barat, arsitektur Barat, gaya hidup Barat, teknologi Barat dan orang Barat (bule-red), mempunyai daya pesona yang begitu dahsyat. Saking dahsyatnya daya pesona itu, kitapun dengan suka hati ingin meniru Barat. Tidak peduli laki-laki maupun perempuan, pejabat atau rakyat miskin, orang kota atau orang desa, orang Solo atau orang Jakarta, semuanya ingin meniru Barat, termasuk warna kulitnya.

Memang, di masa depan, sensitivitas warna kulit sepertinya masih akan menjadi senjata ampuh untuk legitimasi atas banyak kepentingan. Globalisasi, kapitalisme, kelas dan kekuasaan rasanya akan selalu kukuh berusaha menjaga dan membangun kembali hidupnya sentimen warna kulit ini. Akan tetapi, fenomena ini tampaknya merupakan fenomena yang populer di Indonesia, dan juga di seluruh Asia. Namun kritik atas masalah ini berbeda di masing-masing negara. Di Malaysia misalnya, salah satu fenomena yang santer diperbincangkan di kalangan para pemerhati masalah ini adalah mengenai iklan pariwisata Malaysia. Meski mempromosikan ‘Asianess’, namun pelaku atau model yang ditampilkan dalam iklan tersebut kesemuanya adalah perempuan-perempuan berkulit putih atau ada yang indo. Menurut penulis, hal ini bertentangan dengan pesan iklan tersebut yang mengemban jargon: ‘Malaysia, truly Asia’.[1]


Lain halnya dengan yang terjadi di Jepang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Francoise Kadri, perempuan Jepang—bahkan yang masih anak-anak pun—selalu memimpikan untuk mempunyai kulit yang putih seperti cangkang telor rebus yang bersinar. Di negara ini, kulit putih—meski orang Jepang sendiri menurut kaca mata orang Asia sudah berkulit putih—menjadi salah satu simbol kelas, setidaknya hal itu menandakan bahwa seseorang tidak berasal dari desa atau pekerja lapangan. Perempuan harus menggunakan payung bila berada di bawah terik matahari, menggunakan sunblock atau pelindung matahari jika pergi ke pantai, atau bahkan menggunakan pakaian yang rapat menutup tubuh—seperti jaket dan kaos tangan—untuk melindungi mereka dari sengatan matahari yang bisa membuat kulit mereka menjadi gelap. Kadri menyebutkan bahwa sebenarnya, tendensi untuk memiliki kulit putih ini sudah muncul sejak tahun 1960-an. Namun, disebutkan bahwa Jepang mulai tertarik membangun industri kosmetik pemutih kulit ini tujuh tahun kemudian. Ini berarti bahwa sejak tahun 1967, Jepang telah memproduksi produk-produk pemutih dan industri produk-produk pemutih kulit ini merebak pada akhir tahun 1990-an, termasuk di Indonesia. Penjualan dari produk ini selalu meningkat tiap tahunnya. Pada kisaran 1997-2002 saja misalnya, produk pemutih kulit meningkat 23% di Jepang.[2]


Kadri menyebutkan, perempuan Singapura dan Taiwan pun berperilaku tidak jauh berbeda dengan perempuan Jepang. Mereka juga ingin memiliki kulit putih, bahkan putih seperti translucent, hampir seperti kulit transparan. Di Cina, pemutih kulit Cleawhite juga begitu pupuler, demikian berdasarkan laporan Andrea Jung.[3] Di Thailand warna kulit yang digemari saat ini sama dengan di Jepang, yaitu khao khai pog atau kulit putih seperti cangkang telor rebus.[4] Fakta ini diperkuat oleh tulisan Holly High yang menyebutkan bahwa di Thailand, kulit putih itu dianggap cantik secara sosial.[5] Berdasarkan interview penulis pada beberapa perempuan yang berasal dari Filipina, di kalangan generasi muda Filipina, idealisme kulit juga beralih dari warna kayu manggik—warna seperti warna kuning langsat di Indonesia—menjadi putih seperti orang ‘Barat’.[6]


Di Indonesia, sebuah negara demokrasi bekas jajahan Belanda yang memiliki pluralitas budaya dan suku bangsa, ras dan etnik, fenomena kulit putih ini menjadi bahan diskusi menarik.[7] Kaum perempuan sibuk memutihkan kulit coklat atau kulit gelap mereka dengan mengkonsumsi produk-produk pemutih demi mengejar norma-norma global yang berlaku sekarang. Ayu Utami, seorang penulis dan feminis, juga mengakui bahwa ukuran perempuan cantik adalah perempuan yang berkulit putih.[8]


GLOBALISASI dan IKLAN NEO-KOLONIAL
Arus globalisasi sudah tak terbantahkan. Hegemoni budaya modern pun menciptakan dominasi pencitraan dalam bahasa yang sangat mudah dipahami. Modernitas dan globalisasi membentuk masyarakat menjadi semakin seragam atau homogen dengan sistem standardisasi melalui teknologi dan melalui hal-hal yang bersifat komersial, dan sinkronisasi kultural terhadap budaya Barat.[9]


Di bawah panji ‘globalisasi’, feodalisme kolonial negara-negara eksploiter yang kaya raya telah melakukan pemaksaan melalui mekanisme pasar. Di zaman dunia trans-nasional seperti sekarang, kapitalisme media membentuk cara pandang kita terhadap dunia, kesadaran kita terhadap masalah kelas, identitas, gambar diri, nilai-nilai hidup: apa yang dianggap baik atau buruk, positif atau negatif, moralitas atau kejahatan. Media menyediakan simbol-simbol, mitos dan sumber-sumber melalui budaya yang dianggap umum dan melalui apropriasi dimana kita menjadi bagian dari budaya tersebut.[10]


Memang, penayangan produk-produk budaya komersial dari Barat—Hollywood atau London atau Paris misalnya—dengan segala atribut prestisiusnya, bisa menciptakan gap-gap terhadap lokalitas masing-masing negara yang mengonsumsinya. Di Indonesia, budaya massa Amerika mendominasi pola hidup dan cara pandang kita terhadap dunia. Karena kita tidak melek media (media literacy) dan kita juga tidak memiliki tradisi berpikir dialektis, maka saat politik budaya beralih rupa menjadi kapitalisme dan feodalisme global, lagi-lagi kita menjadi obyek. Banyak sekali orang—terutama kaum perempuan tanpa disadari terjebak pada kepentingan-kepentingan dan kompensasi-kompensasi sesaat—seperti kompensasi atas kesadaran warna kulit ini. Mereka samapai babak belur karena harus menyesuaikan diri dengan hirarki global (global hierarchy) yang sedang berlaku. Menurut Lazarfeld and Merton, media mempunyai fungsi sebagai racun pembius (narcotizing dysfunction) yang menjadikan masyarakat kita tidak bisa menjadi bagian dari subyek dalam globalisme ini. Lihat bagaimana kapitalisme membius konsumen dengan iklan neo-kolonialnya.


Iklan Caring Colors, salah satu brand dari produk Biokos, Sari Ayu Martha Tilaar sangat menarik untuk disimak. Iklan yang beriklan di majalah-majalah perempuan terkemuka ini menawarkan rasionalitas menjanjikan. Secara garis besar, iklan ini ingin berkata bahwa untuk bisa diakui orang harus tidak tradisional tapi modern, yaitu dengan memiliki kulit putih. Lihat ilustrasi di bawah:




Iklan ini sangat menarik untuk mewakili produk pemutih lain yang beriklan di media-media cetak, sebab menurut saya, slogan produk pemutih kulit ini sangat semiotis. Dalam iklan tersebut dituliskan ‘Just White and See!’[11] yang merupakan kreasi dari ungkapan dalam bahasa Inggris ‘Just Wait and See!’. Bila dibahasa-Indonesiakan, arti dari slogan produk pemutih Caring tersebut, ‘Jadilah putih dan lihat hasilnya nanti!’

Jelas, iklan ini menciptakan kriteria tunggal tentang feminitas, dan meniadakan keberagaman feminitas lokal. Tapi apapun itu, iklan ini tetap memesona, dan menjadi semakin memesona karena ia menawarkan added value (nilai lebih) atau imaginasi yang dibangun oleh pengiklan, sebagai ekses dari kebutuhan fisik. Hasil atau paket yang bisa diterima oleh seseorang setelah menjadi berkulit putih yang dimaksudkan iklan ini termasuk dalam hitungan tak terhingga. Dari sinilah iklan-iklan tersebut dikemas dalam sebuah paket yang menawarkan fantasi. Contoh lain adalah produk Ponds.




Menurut data dari AC Nielsen, untuk kurun waktu bulan Januari-Desember 2002-2003, peningkatan produk pemutih Ponds White Beauty-Skin Lightening di Indonesia meningkat drastis sampai 110%, dari hitungan 46 milyar menjadi 97 milyar. Di tingkat Asia, peningkatan produksi pemutih ini mencapai 20% pada periode 1997-2002.[12] Dari hasil perhitungan ini, bisa disimpulkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk pemutih kulit meningkat dengan begitu signifikan. Selain indikator tersebut, bertambahnya produk-produk pemutih merek lain yang sampai 47 jenis produk, juga merupakan peta tersendiri yang bisa dibaca sebagai potensi konsumtif masyarakat di Indonesia.

Representasi dari pemutih kulit distrategikan, dilokalkan, dan digeneralisasikan untuk memperluas gairah dan keinginan perempuan dan laki-laki—beberapa iklan pemutih ini menggunakan male approval— dengan terus-menerus menekankan kulit putih sebagai sebuah keharusan untuk feminitas. Iklan secara khusus menghidupkan sensitivitas masa lalu kembali ke dalam kontras dan perbandingan yang tampak (visible contrast and comparison) [13] berdasarkan oposisi biner hirarki patriarkal dan kolonial.


MENTALITAS INLANDER

Mengapa kita mudah sekali termakan iklan-iklan neo-kolonial tersebut dan menerima ide iklan itu sebagai yang semestinya? Mengapa kita bisa meyakini kalau hal-hal yang berbau Barat itu lebih baik dan bahkan superior?

Salah satu jawaban mengapa pemujaan terhadap nilai-nilai asing, khususnya perilaku perempuan Indonesia bisa terjadi karena ketidak-berdayaan masyarakat untuk menyikapi laju Westernisasi yang cepat bahkan super cepat dan menyilaukan. Ketidaksiapan ini salah satunya disebabkan karena mereka masih menderita rasa rendah diri yang penulis sebut dengan ‘mentalitas inlander’. Apa itu mentalitas inlander? Mentalitas inlander yang saya maksud adalah segala pemikiran, konsep, dan perasaan rendah diri—termasuk mengikuti dan mengadopsi nilai-nilai Barat—yang dihidupi oleh orang Indonesia terhadap apapun yang ada sangkut pautnya dengan Barat dan menganggap apapun yang melekat pada Barat tersebut lebih “superior” dibanding dengan apapun yang lekat pada bangsa sendiri.

Lalu, mengapa kita bisa memiliki mentalitas inlander? Menurut saya perasaan rendah diri ini tidak datang dengan serta merta. Perasaan ini ada dan muncul dari rembesan pengalaman sejarah yang secara turun temurun diwariskan oleh para pendahulu ke dalam tradisi kehidupan rakyat Indonesia hingga saat ini. Pendahulu yang saya maksud adalah feodalisme dan kolonialisme. Masa kolonial Belanda sangat membantu kita untuk memahami fenomena kontemporer.

Menurut Frantz Fanon, pengasingan budaya menjadi ciri khas masa kolonial, dan konteks kolonial dicirikan oleh dikotomi yang sengaja diciptakan kaum kolonialis terhadap semua orang.[14] Kolonialisme melakukan pencemaran watak dan brain washing terhadap pribumi atau menurut S.H. Alatas, kolonialisme melakukan revolusi mental. Secara umum, penjajahlah yang mendefinisikan wacana-wacana di negeri jajahannya, termasuk di yang dilakukan kolonial Belanda di Nusantara.

Politik diskriminasi memang dijadikan salah satu ujung tombak kolonial Belanda. Bahkan politik ini pun sudah sengaja ditanamkan pada anak-anak mereka. Saya menggunakan Soekarno sebagai informan saya. Dari pengalaman hidup Soekarno, kita bisa mendapatkan gambaran jelas bagaimana Belanda melakukan brain washing pada pribumi. Soekarno muda mengalami banyak penghinaan. Dalam biografinya Soekarno berkata:

"Klub sepak bola adalah pengalaman traumatik bagiku. ‘Hey kamu kulit coklat! … hey orang kulit coklat! bodoh dan miskin … pribumi … inlander … petani … . Hey, kamu lupa pakai sepatu … .’ ‘Meski anak bule yang masih kecil pun sudah tahu meludahi kami, inilah hal pertama yang diajarkan oleh orang tua mereka setelah tidak lagi memakai popok."[15]

Anak-anak usia sekolah sudah fasih mengejek, menghina, dan merendahkan orang-orang pribumi. Keterpurukan perasaan yang dialami Soekarno secara individual tampaknya merupakan gambaran dari keterpurukan dan penghinaan yang diterima oleh orang-orang pribumi dalam konteks yang lebih luas. Ia lebih lanjut mendeskripsikan kesengajaan kolonial Belanda dalam usahanya mengkonstruksikan rasa rendah diri masyarakat kita sebagai bangsa yang rendah. Pada sebuah kesempatan Soekarno berucap:


"Tempe itu sejenis makanan yang murah, yang dibuat dari kedelai yang dijamurkan. Negara dengan mental tempe berarti negara yang lemah, lembek. Itulah yang sedang kami alami sekarang. Orang-orang Belanda selalu dan terus-menerus mengatakan ataupun menganggap kami sebagai bangsa dengan otak kapuk. Oleh karena itu, kami menjadi pengecut dan tidak percaya diri—takut untuk duduk, takut untuk berdiri, sebab apapun yang kami lakukan selalu dianggap salah. Kami menjadi orang-orang yang mempunyai hati yang kerdil dan gampang di konstruksikan/diombang-ambingkan."[16]

Uraian ini membawa ingatan kita pada studi yang dilakukan oleh S.H. Alatas mengenai mitos pribumi malas. Dalam studi itu disebutkan bahwa begitu dijajah, begitu negara diambil alih, dalam segala hal pribumi harus menerima tempat di bawah. Mereka harus direndahkan dan dibuat merasa bodoh dan bersikap tunduk. Bahkan menurut Fanon, dengan sengaja penjajah menyatakan bahwa pribumi tidak dapat merasakan etika; yang melambangkan tidak adanyanya nilai-nilai, tetapi juga peniadaan nilai-nilai. Lebih jelas lagi, Soekarno menunjukkan kesengajaan Belanda untuk membodohkan rakyat:

"Penanaman terus menerus Pemerintah Hindia Belanda kepada kami bahwa kami inferior berhasil meyakinkan kami akan hal itu. Senjata yang mereka pakai adalah dengan meyakinkan kami bahwa kami bodoh dan menananamkan bahwa ras kami adalah ras yang rendah dan hina. Itulah senjata yang dipakai oleh penjajah."[17]

Dalam bahasa Inggris, lebih tegas lagi Soekarno mengatakan bahwa, “Imperialism is a collection of visible and invisible powers.”[18] Pendapat ini sejajar dengan kekuasaan Barat kontemporer yang berada pada tingkatan norma-norma yang di satu pihak kasat mata sekaligus di lain pihak tidak. Masa penjajahan dianggap Soekarno sebagai masa yang mematikan dan menggelapkan sekaligus menekan segala keinginan rakyat Indonesia untuk mengekspresikan dirinya. Kolonialisme menghalalkan semua cara untuk melanggengkan supremasinya, termasuk tindakan pencucian otak (brain washing) kepada masyarakat Bumiputera.


Kolonialisme merupakan budaya yang mengesampingkan perbedaan-perbedaan budaya dan menciptakan katagori-katagori universal, tidak hanya mengeksplorasi daerah jajahan dalam bentuk fisik namun juga mengeksploitasi budayanya. Tindak tanduk kita harus patuh pada cara-cara Belanda, sementara kebudayaan pribumi diberangus. Eropa menciptakan dominasi kekuasaan dan sekaligus menentukan standar dan kriteria atas binari beradab dan tidak beradab. Untuk mengerti ini kita perlu mengingat masalah klasifikasi rasial pada abad ke-19 dimana cultuurstelsel adalah landasan kuat proses legalisasi klasifikasi rasial di Hindia-Belanda. J.C. Baud, salah satu pembentuk dan pelaksana cultuurstelsel ini menegaskan bahwa bahasa, warna kulit, agama, moral, keturunan, ingatan historis, dan semuanya adalah sepenuhnya berbeda antara orang-orang Belanda dan orang-orang Jawa. Orang Belanda adalah penguasa dan Jawa adalah yang dikuasai. Salah satu penegasan atas politik rasial ini dilakukan oleh Gubernur Jendral J.J. Rochusen yang memerintah 1848-1849. Dia mempertegas perbedaan biner antara penjajah dan yang dijajah dengan mengagung-agungkan keindahan kulit putih dan superioritas moral dan intelektual bangsa kulit putih terhadap bangsa kulit coklat.[19] Sampai abad ke-19 asumsi dari klasifikasi rasial ini menjadi legal. Secara garis besar, mungkin latar belakang inilah yang juga menjadi dasar mengapa masyarakat sadar atau tidak sadar menerima konotasi kolonial bahwa kulit putih lebih agung daripada kulit warna kulit lain.


Pada gilirannya, warisan kolonial tersebut berurat akar dan hidup dalam budaya dan pola pikir bahkan alam bawah sadar kita sehingga dalam konteks sekarang, lemahnya kesadaran lokalitas akibat pengasingan budaya dan konstruksi kolonial tersebut melahirkan sikap pemujian, pemujaan, dan penyanjungan yang berlebihan terhadap norma-norma Barat termasuk demam kulit putih ini.

Jadi, sebenarnya masyarakat mengkonsumsi barang-barang tersebut lebih pada kegunaan simbolis untuk kepentingan identitas sosial sebagai salah satu simbol kelas dan modernitas. Orang tidak lagi membeli produk namun lebih pada ekses yang dijanjikan oleh produk pemutih tersebut atau kegunaan simbolis atau maknanya. Nilai lebih dari iklan pemutih ini jelas, yaitu superioritas Barat.


Vissia Ita Yulianto
Dipresentasikan dalam acara Temu Koreografer Wanita ke-6, Mataya Arts and Heritage, Solo Grand Mall, 29 April 2008



[1] Iklan pariwisata Malaysia dengan jargon ‘Malaysia Truly Asia’ ini bersaing dengan kampanye pariwisata Yogyakarta yang diprakarsai oleh Gubernur DIY dengan jargon’ Jogyakarta Never Ending Asia.’
[2] Fancoise Kodri, White is Right for Color-Consciousness Japan Women, The Jakarta Post, Sunday, June 29, 2003, hal 5.
[3] Shobana Chandra, Avon Calling in China, http: //www.chinadaily.com.cn/English/doc/2004-03/22/content_316806.htm.
[4] Data ini saya dapatkan dari keterangan Pichet Saipan, seorang kandidat Ph.D Universitas des Sciences Sociales et Humaines, Vietnam National University saat bersama-sama melakukan studi pustaka di Asia Research Institute, National University of Singapore 2004.
[5] Holly High, ‘Black’ Skin ‘White’ Skin: Riches and Beauty in Lao Women’s Bodies, Thai Yunnan Project Bulletin. No. 6 June 2004. hal. 7- 9.
[6] Hasil wawancara saya dengan beberapa ilmuwan negara-negara tersebut yang tergabung dalam Asian Research Institute 2004, National University of Singapore, 2004.
[7] Lih. Vissia Ita Yulianto, The Allure of Whiteness in Indonesia, http:www.afrase.org/euroseas2004/documents/ateliers/euroseas_20_206.doc
[8] Ayu Utami, Si Parasit Lajang, Seks, Sketsa, dan Cerita, Gagas Media, 2004, hal. 85-89.
[9] JN.Pieterse, Globalization as Hybridization seperti dikutip dalam Indigenization of Modernity: Cultural Globalization and the Third World, Raj Mohini Sethi (ed)., Globalization, Culture and Women’s Development, Rawat Publications, Jaipur and New Delhi, 1999.
[10] Douglas Kellner, Cultural Studies, Multiculturalism and the Media Culture dalam Gail Dines and Jean M. Humez (ed)., Gender, Race, and Class in the Media : A Text-Reader, Sage Publications, London and New Delhi, 2003. hal. 9-19.
[11] Just white and see seharusnya Just be white and see.
[12] Francoise Kodri, White is Right for Color-Consciousness Japan Women, The Jakarta Post, Sunday, June 29, 2003.
[13] Goon and Craven, ibid., Pointers 8. Iklan senada bisa ditemukan dalam banyak produk pemutih di Indonesia, misalnya: Purbasari White dimana iklan itu menampilkan seorang laki-laki paruh baya sedang mengadakan audisi terhadap beberapa orang perempuan muda. Dengan serta merta laki-laki itu memilih seorang perempuan yang kulitnya lebih putih daripada warna kulit perempuan lainnya. Bahkan, sambil menunjuk kepada perempuan yang tidak terpilih tersebut dengan berkata, “Kamu! Pakai dulu Purbasari White!”
[14] Frantz Fanon, Bumi Berantakan, Teplok, Yogyakarta, 2000, hal. 16.
[15] Cindy Adams, Soekarno an Autobiography As Told to Cindy Adams, Bobbs-Merrill, London, 1965, hal. 28-33.
[16] Cindy Adams, op.cit., 1965, hal. 33.
[17] Cindy Adams, op.cit., 2001, hal. 46.
[18] Cindy Adams, ibid., 2001, hal. 46.
[19] C. Fasseur, Cornerstone and Stumbling Block: Racial Classification and the Late Colonial State in Indonesia dalam Robert Cribb (ed.), The Late Colonial State in Indonesia: Political and Economic Foundations of the Netherlands Indies 1880-1942, KITLV Press, Leiden, 1994, hal. 31-34.

Kartini Menggugat

Sejatinya, Kartini adalah seorang kritikus sosial yang progresif. Lewat surat-suratnya, kerumitan sejarah masa itu diungkapkan dengan segala keleluasaan dan tidak terkontaminasi oleh sistem dominan. Ide-idenya menjadi dokumen sejarah yang berasal dari luas dalan dalamnya pandangan seorang nasionalis dalam lingkaran artikulasi Jawa pada akhir abad 19. Sayangnya, ia jarang diperbincangkan dalam lingkup yang variatif. Sampai saat ini ia melulu ditempatkan sebagai sosok perempuan Jawa yang feodal dan tradisional. Bahkan, di kalangan kaum muda, Kartini dianggap kuno dan ndeso. Benarkah demikian?

Perlu kita ingat, Kartini hidup dalam kompeksitas cengkeraman feodalisme Jawa dan kolonialisme Belanda yang begitu kuat. Akan tetapi dia cukup punya nyali untuk mengorbankan sebagian dari dirinya untuk menggugat. Tidak hanya berusaha menyingkap kabut bagi kaum perempuan, namun ia juga memperjuangkan keterbelakangan dan kebodohan pribumi. Ia banyak mengajukan kritik baik terhadap pemerintah kolonial Belanda maupun kepada kaum feodal Jawa yang ketika itu “impoten” secara politis. Bahkan, ia berani melontarkan gugatan pedas mengenai masalah yang hingga di zaman post-modern ini pun masih sangat sensitif, yaitu masalah agama dan kekerasan. Dalam surat yang ditulisnya kepada seorang feminis Belanda Stella Zeehandelaar 6 November 1989, Kartini menulis, "Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama? Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana. Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. ...Aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini?"

Cara berpikir seperti Kartini ini tergolong berani. Memang, agama dan kekerasan adalah lagu lama yang selalu berkumandang di sepanjang peradaban manusia sejak dulu. Dalam konteks luas, baik secara individu maupun kolektif, agama sering dihidupi secara kaku dan bahkan disimulatif sehingga penghidupan semacam ini sering memberangus toleransi, mengesampingkan logika kemanusiaan dan hati nurani. Untuk konteks sekarang, kerusuhan Poso, pembakaran gereja di Sambas, perang saudara di Ambon, perusakan tempat-tempat ibadah di Jawa dan tragedi bom Bali telah mengingatkan kita betapa agama dijadikan alasan—oleh kelompok-kelompok tertentu—untuk menjahati kemanusiaan dan mengangkangi moralitas.

Sesungguhnya, pandangan Kartini ini ditulis dalam rangka menyikapi paradoks-paradoks kehidupan keagamaan saat itu, termasuk masalah poligami. Secara implisit ia juga mengeluhkan “keterpingiran” yang dialami ibu kandungnya, Ngasirah, karena poligami. Ia mempertanyakan bagaimana sebenarnya poligami terakomodir dan tumbuh subur dalam payung agama. Lagi lagi, substansinya terletak pada pemahaman keliru terhadap dogma agama sehingga kerap kali agama hanya dijadikan sebagai simbol formal dalam masyarakat dan legitimasi politis kekuasaan, termasuk kekuasaan laki-laki terhadap perempuan. Hingga zaman post-modern ini, kiranya gugatan dan pandangan Kartini tentang agama, kekerasan dan poligami masih tetap menjadi pro-kontra yang sengit.

Kartini dan opium
Sementara itu, Kartini juga memiliki keprihatinan lain yang tak kalah serius, mengenai opium. Tidak jauh beda dengan merajalelanya narkoba saat ini, lewat suratnya tertanggal 13 Januari 1900, Kartini memberitahu kita bahwa pada abad 19, opium atau ganja telah menjadi candu masyarakat; "Ada setan yang lebih jahat daripada minuman keras! Opium! Oh mengerikan! Keganasan opium sungguh tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Opium adalah sebuah penyakit di Jawa. Ya, opium lebih ganas dari pada penyakit itu sendiri. Penyakit pasti bisa sembuh namun opium, kejahatan opium bisa menyebar dan melebar kemana-mana dan tak pernah, tak akan pernah bisa ditangani dengan satu peraturan Pemerintah! Semakin banyak penggunanya semakin menjadi besarlah bisnis ini. Bisnis opium adalah bisnis yang paling menjanjikan bagi pemerintah Belanda. Meraka untung tapi rakyat buntung...apakah rakyat menjadi baik atau tidak mereka peduli apa?...banyak yang bilang opium itu tidak merugikan, oh...mungkin mereka buta...tidak merugikan bagaimana?pembunuhan, pembakaran, perampokan, apalagi kalau bukan akibat langsung dari opium!"

Dalam konteks sejarah yang lebih luas, polarisasi perdagangan opium saat itu memang sangat serius. Pada tahun 1870an, opium ada disegala penjuru pulau Jawa dan dinikmati oleh rakyat dari segala kalangan dan menjelang akhir abad 19, pasar-pasar opium terkaya ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suhartono, 1993). Dikalangan kaum priyayi, opium sudah menjadi lambang keramahtamahan dan prestis untuk menjamu tamu. Kegandrungan rakyat Jawa pada opium masih berlanjut hingga awal abad 20. Ini bisa kita lihat dari surat Kartini kepada Abendanon Mandri—seorang perempuan Belanda yang ia panggil Ibu—yang masih mengeluhkan hal serupa (10 Agustus 1904).

Sastrawan
Adalah tidak berlebihan bila orang menyebut Kartini sebagai seorang sastrawan. Sebagai seorang anak nigrat Jawa, ia mempunyai akses dan waktu yang lebih daripada rakyat kebanyakan. Dan, waktunya banyak dia isi dengan membaca dan menulis. Dari keduanya, dia bisa memiliki lebih banyak kebebasan untuk mecurahkan semua yang ia rasakan dan pikirkan, termasuk mencurahkan kegaulan hatinya ketika ia tidak berani menggugat. Dalam banyak suratnya, ia sering menggunakan ruang simbolik dari tulisan kreatifnya, membiarkan dirinya berefleksi dan bervisualisasi secara metaforis tentang citra dirinya. Tanggal 13 Januari 1900 ia menulis, "Gamelan kaca yang ada di Pendopo itu bisa bercerita padamu lebih banyak daripadaku. Mereka melantunkan lagu kesayangan kami. Hm, bukan sebuah lagu, bukan pula sebuah melodi, hanya suara-suara dan getaran-getaran lembut, berpadu dan mengalir begitu saja, tapi disaat yang sama terdengar begitu menentramkan sukma, mengalir begitu syahdunya! Bukan, bukan itu, itu bukan suara dari kaca, tembaga atau kayu; itu adalah suara jiwa-jiwa manusia yang sedang berbicara kepada kami, kadang gundah, kadang meratap dan jarang sekali tertawa bahagia. Dan jiwaku terbang terbawa desiran suara-suara itu, suara gamelan, kelangit biru, melewati awan tipis, menerpa sinar gemintang—bunyi gong bergaung keras membawaku kelembah gulita, kejurang yang dalam, melewati belantara yang takterjamah manusia!Dan jiwaku gemetar ketakutan, kesakitan dan perih!"

Rupa-rupanya, dibalik kegagahan Kartini, ia juga mempunyai ruang privat. Lewat ungkapan metaforis ini, menyimpan apa yang tersembunyi, mungkin rahasia kelam kehidupan dirinya. Lewat lantunan gending Jawa itu, Kartini menggunakan imajinasiya untuk menciptakan kisah hidupnya sendiri yang terapung-apung ditengah jalan antara kenyataan dan dunia mimpi. Kreatifitas mengungkapkan gagasan-gagasan yang hilir mudik berseliweran dalam kepalanya tersebut jelas menunjukkan ketrampilan dan kematangan sastra.

Kartini dan rasisme
Kartini adalah juga pelopor kesetaraan ras. Ini ia tunjukkan dengan kritiknya pada politik rasisme Belanda. Ia terlihat sangat emosional dalam menanggapi masalah ini. Ia menulis, "...dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan’. Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan ‘Hindia yang miskin’. Orang mudah sekali lupa kalau ‘negeri kera yang miskin ini’ telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal disini."

Catatan Kartini ini menyodorkan sebuah pembenaran bahwa politik rasisme Belanda dibangun dalam ukuran cranial measurements and facial comparisons (lewat ukuran batok kepala dan perbandingan wajah) (Krishnaswamy, 1998). Selain itu, Hindia Belanda juga digambarkan seperti apa yang disebut Ien Ang (2001) sebagai a site of deprivation (tempat yang serba kekurangan). Yang terjajah diindentikkan dengan fisik yang buruk, bodoh, tradisional dan tidak berbudaya, sedangkan si penjajah diposisikan sebagai yang pandai, cakap secara fisik, modern dan berbudaya.

Kartini sadar benar bahwa konstruksi rasis semacam itu menghancurkan rasa percaya diri rakyat yang masih hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Hal inilah salah satu latar belakang mengapa dia menggugat dan mengirimkan sebuah nota kepada pemerintah kolonial Belanda untuk memberi akses pendidikan bagi pribumi. Nota itu terkenal dengan nama Nota Pendidikan (1903).

Seperti kita tahu, oleh rezim lalu Kartini disudutkan dan dihadirkan sebagai perempuan domestik. Label itu itu pula yang membuat masyarakat umum mempunyai pandangan keliru tentang kepoloporannya. Seiring berlalunya rezim tersebut, hendaknya kita perlu mempertimbangkan kembali akan dedikasi dan partisipasi Kartini sebagai salah satu tokoh progresif di Indonesia.
Vissia Ita Yulianto
Penerjemah Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar
((1899-1903) - Kompas, 2004).
Artikel ini pernah terbit di Harian SINDO, 21 April 2008