Oleh: Y. Budi U*
Ada banyak rupa alasan,
mengapa orang sanggup menjadi "budak"
Ada banyak cara,
mengapa orang mau melakukan "kejahatan"
Tetapi, rasanya hanya sedikit cara
bagaimana menjadi orang baik ..
Mengikat masa depan
Keampuhan berbagai ramalan, menjadikan seseorang takluk (bagi yang percaya) pada hukum gaib dan tak tunduk pada hukum-hukum positif. Ramalan atau ilmu nujum, yang sejak dulu telah dihidupi bangsa Mesopotamia sebagai ilmu perbintangan (astronomi) yang menghitung jumlah dan gugusan bintang untuk menentukan nasib di kemudian hari; menentukan perjalanan dan pelayaran, adalah sederetan titik yang berdiri rapat lalu membentuk sebuah lingkaran, persegi, atau busur setengah lingkaran.
Tapi ramalan lebih seperti mitos, ilmu gaib yang mendongeng, dan masuk ke alam mimpi ketika orang memercayainya. Jika tidak juga puas membunuh rasa penasaran, palmistri (ramalan dengan melihat garis tangan) dan buka aura dapat menjadi pilihan mengubah alur predistinasi. Atau fisiognomi yang meramal watak dan peruntungan lewat bentuk wajah dan tubuh, termasuk dengan melihat pantat dan bentuk payudara (untuk wanita).
Lain halnya dengan kaum predistinian yang amat yakin dengan jalur hidup yang sudah ditentukan. Penganutnya bisa beragam, dari yang ekstrem sampai ke pinggir-pinggir jembatan, dan rumah-rumah kardus. Jika hari ini hanya bisa makan nasi dengan ikan asin; lalu esoknya makan nasi dengan lauk ikan teri, garam, atau bahkan sega aking (nasi basi yang dijemur, lalu dimasak lagi), mungkin itulah tanda-tanda seseorang harus menyerah pada nasib dan bukan ramalan atau dongeng ode kepahlawanan.
Namun terkadang, orang menyamakan "keberuntungan" dengan "nasib". Pada masanya, saat sang penyiar radio menyebut angka-angka jimat, 4 6 0 2 1 5, tiba-tiba ada teriakan kegirangan karena nomor yang dipasangnya cocok. "Inilah hari keberuntungan saya!" katanya. Sementara di tempat lain, banyak orang membanting kertas togel, memaki, mengaduh, bahkan bunuh diri karena nomornya meleset. "Ya ini memang sudah nasibku!"
Keberuntungan dikaitkan dengan kesialan. Untung berarti tidak rugi (sial). Sial berarti tidak untung. Di tengah depresi atas kenaikan harga barang-barang pokok yang terus melambung, orang miskin masih berharap mendapat 'keberuntungan' BLT dari pemerintah.
Di tempat lain, menjadi miskin adalah pilihan, yakni pilihan hidup "mengadu nasib" di tengah terik matahari yang harus dijalani. Hampir sama dengan kaum urban yang juga berniat mengadu nasib ke metropolitan. Jika beruntung, ya dapat pekerjaan syukur penghasilan lumayan; jika tidak ya berarti harus rela tidur di bawah jembatan atau menjadi gelandangan, atau siap dipulangkan kapan saja saat terjaring operasi yustisia.
Relativitas nasib
Mulai kapan nasib bisa ditentukan? Apakah nasib itu? Bukankah ia adalah masa lampau – masa lalu. Sebuah waktu yang telah berlalu, telah dilewati, dijalani (entah dengan sengaja atau tidak). Nasib tidak pernah menjadi nyata atau fakta di waktu yang akan datang/masa depan. Nasib selalu berada dalam kelampauan, karena nasib tak bisa dikatakan di saat seseorang berada dalam ke'esok'an.
Apa seseorang bisa menentukan nasibnya sendiri? Ini juga sebuah definisi yang lain. Dalam kalimat tersebut, nasib (seolah-olah) adalah sebuah "broker" yang menaksir suatu perjalanan hidup. Nasib menjadi kalimat yang hidup. Ia berjalan, berdiri, membayangi, bahkan menjadi ketok palu yang memvonis kehidupan seseorang.
Bila demikian halnya, maka "menyerah pada nasib" adalah perwakilan kata yang tepat. Meskipun hal itu tidak berlaku bagi para pejuang nasib, para pemberontak, revolusioner dan visiun-visiun yang tidak tunduk pada nasib. Lihat saja bagaimana tokoh-tokoh dunia memperjuangkan nasib (dalam arti luas) bangsanya. Mochandas Mahatma Gandhi memilih untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri; via ahimsa dan gerakan non-violence yang mampu merubuhkan kekangan penjajah. Ketahanan si tokoh kulit hitam Nelson Mandela (Afrika Selatan) melawan separatisme membuahkan rasa manis bagi keluhuran kaumnya juga bangsanya.
Jadi, kesimpulannya bisa jadi amat sederhana. Miskin memang (bukan) sebuah pilihan, meski tak ada seorang pun menginginkannya. Nasib bisa berubah. Nasib bisa dilawan, sejauh ia dilawan dan diperdayai.
Ada banyak cara,
mengapa orang mau melakukan "kejahatan"
Tetapi, rasanya hanya sedikit cara
bagaimana menjadi orang baik ..
Mengikat masa depan
Keampuhan berbagai ramalan, menjadikan seseorang takluk (bagi yang percaya) pada hukum gaib dan tak tunduk pada hukum-hukum positif. Ramalan atau ilmu nujum, yang sejak dulu telah dihidupi bangsa Mesopotamia sebagai ilmu perbintangan (astronomi) yang menghitung jumlah dan gugusan bintang untuk menentukan nasib di kemudian hari; menentukan perjalanan dan pelayaran, adalah sederetan titik yang berdiri rapat lalu membentuk sebuah lingkaran, persegi, atau busur setengah lingkaran.
Tapi ramalan lebih seperti mitos, ilmu gaib yang mendongeng, dan masuk ke alam mimpi ketika orang memercayainya. Jika tidak juga puas membunuh rasa penasaran, palmistri (ramalan dengan melihat garis tangan) dan buka aura dapat menjadi pilihan mengubah alur predistinasi. Atau fisiognomi yang meramal watak dan peruntungan lewat bentuk wajah dan tubuh, termasuk dengan melihat pantat dan bentuk payudara (untuk wanita).
Lain halnya dengan kaum predistinian yang amat yakin dengan jalur hidup yang sudah ditentukan. Penganutnya bisa beragam, dari yang ekstrem sampai ke pinggir-pinggir jembatan, dan rumah-rumah kardus. Jika hari ini hanya bisa makan nasi dengan ikan asin; lalu esoknya makan nasi dengan lauk ikan teri, garam, atau bahkan sega aking (nasi basi yang dijemur, lalu dimasak lagi), mungkin itulah tanda-tanda seseorang harus menyerah pada nasib dan bukan ramalan atau dongeng ode kepahlawanan.
Namun terkadang, orang menyamakan "keberuntungan" dengan "nasib". Pada masanya, saat sang penyiar radio menyebut angka-angka jimat, 4 6 0 2 1 5, tiba-tiba ada teriakan kegirangan karena nomor yang dipasangnya cocok. "Inilah hari keberuntungan saya!" katanya. Sementara di tempat lain, banyak orang membanting kertas togel, memaki, mengaduh, bahkan bunuh diri karena nomornya meleset. "Ya ini memang sudah nasibku!"
Keberuntungan dikaitkan dengan kesialan. Untung berarti tidak rugi (sial). Sial berarti tidak untung. Di tengah depresi atas kenaikan harga barang-barang pokok yang terus melambung, orang miskin masih berharap mendapat 'keberuntungan' BLT dari pemerintah.
Di tempat lain, menjadi miskin adalah pilihan, yakni pilihan hidup "mengadu nasib" di tengah terik matahari yang harus dijalani. Hampir sama dengan kaum urban yang juga berniat mengadu nasib ke metropolitan. Jika beruntung, ya dapat pekerjaan syukur penghasilan lumayan; jika tidak ya berarti harus rela tidur di bawah jembatan atau menjadi gelandangan, atau siap dipulangkan kapan saja saat terjaring operasi yustisia.
Relativitas nasib
Mulai kapan nasib bisa ditentukan? Apakah nasib itu? Bukankah ia adalah masa lampau – masa lalu. Sebuah waktu yang telah berlalu, telah dilewati, dijalani (entah dengan sengaja atau tidak). Nasib tidak pernah menjadi nyata atau fakta di waktu yang akan datang/masa depan. Nasib selalu berada dalam kelampauan, karena nasib tak bisa dikatakan di saat seseorang berada dalam ke'esok'an.
Apa seseorang bisa menentukan nasibnya sendiri? Ini juga sebuah definisi yang lain. Dalam kalimat tersebut, nasib (seolah-olah) adalah sebuah "broker" yang menaksir suatu perjalanan hidup. Nasib menjadi kalimat yang hidup. Ia berjalan, berdiri, membayangi, bahkan menjadi ketok palu yang memvonis kehidupan seseorang.
Bila demikian halnya, maka "menyerah pada nasib" adalah perwakilan kata yang tepat. Meskipun hal itu tidak berlaku bagi para pejuang nasib, para pemberontak, revolusioner dan visiun-visiun yang tidak tunduk pada nasib. Lihat saja bagaimana tokoh-tokoh dunia memperjuangkan nasib (dalam arti luas) bangsanya. Mochandas Mahatma Gandhi memilih untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri; via ahimsa dan gerakan non-violence yang mampu merubuhkan kekangan penjajah. Ketahanan si tokoh kulit hitam Nelson Mandela (Afrika Selatan) melawan separatisme membuahkan rasa manis bagi keluhuran kaumnya juga bangsanya.
Jadi, kesimpulannya bisa jadi amat sederhana. Miskin memang (bukan) sebuah pilihan, meski tak ada seorang pun menginginkannya. Nasib bisa berubah. Nasib bisa dilawan, sejauh ia dilawan dan diperdayai.
*Y. Budi U, Ketua Komunitas Studi INSPICIO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar