Oleh: Y. Budi U*
Miles Hilton Barber, seorang tuna netra asal Inggris, berhasil mendarat sempurna di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 15 April 2007 lalu. Miles, didampingi Richard Meredith Hardy, yang juga seorang tuna netra menerbangkan pesawat microlight Pagasus Mainair GT450 mengelilingi dunia, termasuk mengunjungi Indonesia. Misi Miles sangat jelas, yakni penggalangan dana bagi para tuna netra di sejumlah negara berkembang. Miles sendiri dikenal amat berprestasi. Hampir di sepanjang hidupnya, Miles telah memiliki pengalaman terbang lebih dari 250 mil melewati Antartika, melewati 159 mil Gurun Sahara, mendaki Gunung Himalaya, dan bahkan pernah mengikuti Grand Prix Malaysia untuk orang buta. Sepertinya, ketidaksempurnaan inderawi bukan merupakan halangan berarti bagi seorang Miles.
Hubungan kesalingan
Kehadiran Miles di Indonesia mengejutkan banyak orang sekaligus mengundang decak kagum. Betapa tidak. Kondisi inderawi yang tak sempurna justru tidak membuat Miles menyerah dan tunduk pada nasib. Ia berjuang dan terus bertumbuh dalam pengharapan. Ia mampu mengubah ketidakberdayaan menjadi kebergunaan yang dahsyat. Di sinilah letak kemenangan Miles sebagai seorang manusia.
Sebagaimana dihayati Miles, ada satu kebutuhan dalam diri manusia untuk memberi sesuatu kepada sesamanya. Ia menempatkan diri sebagai makhluk yang bernilai bila hidupnya berguna dirinya sendiri dan bagi orang lain (Jean Paul Sartre). Sebab, manusia adalah bagian dari dunianya, komunitasnya, dan alam semesta secara keseluruhan.
Gabriel Marcel memandang pentingnya konsep ke-aku-an di antara ke-kamu-an. Ada aku karena ada kamu. Ada kamu karena ada aku, dan seterusnya. Masing-masing diri manusia menyumbang fungsi dan peran berbeda, yang menjadikannya semakin bermanfaat bagi orang lain. Man for the others, begitulah kaul yang kerap diucapkan para rohaniwan.
Bagaimana mungkin dalam diri seorang tuna netra tumbuh kesadaran akan solidaritas manusiawi yang tulus untuk membantu orang lain yang bernasib sama? Jawabannya bisa saja mungkin, bila kesadaran itu telah dihidupi menjadi satu kebutuhan. Solidaritas akan tumbuh bila dalam diri seseorang ada mutiara ketulusan, menjadi sebuah solidaritas manusiawi (Richard Rorty). Solidaritas manusiawi merupakan solidaritas yang tidak dibuat-dibuat, lahir dari kedalaman hati, dan tentu saja tidak berharap pamrih jasa apalagi materi. Menolong karena ingin menolong, membantu karena ingin membantu, dan seterusnya. Hal itu diyakini pula oleh Thomas Merton, "Nobody is an island" (1955). Tidak seorang pun manusia sanggup hidup sendiri. Ia selalu butuh orang lain, entah dalam kapasitas yang kecil atau besar. Dari situlah, manusia sebagai homo socius menempatkan dirinya sebagai seorang Adam yang membutuhkan Hawa, sebagai teman hidup.
Bertolak dari pengalaman Miles di atas bisa ditarik satu simpul kecil tentang kesalingtergantungan manusia dengan sesamanya. Dan, Miles telah mampu menempatkan ke"buta"an matanya sebagai satu inspirasi yang mengerakkan kepeduliannya. Hal ini menarik. Tata alam yang normal seolah dijungkirbalikkan oleh "kepiawaian" (profesionalisme) Miles mengemudikan pesawat. Jika demikian, hidup memang penuh kejutan. Ia adalah misteri, sebagaimana fakta masa depan atau kematian yang selalu tersembunyi (Martin Heidegger). Kenormalan inderawi tidak selalu menjadi jaminan kesuksesan. Demikian pula sebaliknya, ketidaklengkapan inderawi tidak selalu menjatuhkan seseorang dalam kubangan frustasi dan kegagalan.
Tinggal bagaimana mata hati kita melihat hidup secara positif, dinamis, dan paradigmatis. Sebab seringkali kita tidak mensyukuri apa yang sudah diraih, dan lebih sering menyesali apa yang belum diraih (Schopenhauer).
Mata dan cahaya
Jujur, kisah hidup Miles benar-benar menyentuh bidang-bidang permenungan hati yang terdalam, terutama bagi kita yang berpenglihatan normal. Faktanya, kita (termasuk saya) sering mengabaikan kesehatan, terutama mata. Makanan apapun menjadi halal saat diri larut dalam kesenangan dan kenikmatan. Atau mungkin kita lebih memilih duduk melihat TV sambil ngemil daripada berolahraga dan mengeluarkan keringat. Begitu juga saat membaca buku, rasanya lebih nikmat bila dibaca sambil tiduran dan memeluk guling daripada duduk di kursi dalam posisi tegak. Di lain waktu, terkadang kita enggan untuk melakukan relaksasi setelah berjam-jam di depan layar komputer. Kita pun jarang menggunakan pelindung muka saat berkendaraan di jalan raya.
Anehnya, kebiasaan-kebiasaan buruk ini seringkali dilakukan tanpa sadar, tentu dengan berbagai macam alasan. Sebagian menjawab karena malas, sebagian lain mungkin akan menjawab, sudah tradisi, sih! Yang lain lagi mungkin hanya berekspresi cuek.
Tidak ada yang bisa dipersalahkan dari perilaku-perilaku tersebut. Setiap orang memperlakukan kesehatan mata secara berbeda. Namun, alangkah baiknya bila kesehatan mata dimahkotakan sebagai pilihan yang penting. Menjaga kesehatan mata memang sebuah pilihan, dibandingkan dengan pilihan-pilihan hidup yang lain.
Namun, bila kita mengabaikan kesehatan mata bisa dikatakan bahwa itu adalah tindakan gegabah. Coba kita putar ulang layar kehidupan di belakang kita. Bagaimana kita bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat? Kesatuan organ-organ tubuh yang berfungsi normal, didukung dengan mata yang sehat, kita tentu bisa melewati tikungan demi tikungan dengan baik. Kita bisa menghindari kecelakaan yang nyaris merenggut, saat mata kita awas mengamati jalan.
Mata juga menentukan paradigma kita terhadap dunia. Dongeng menjelang tidur mengenai tiga orang buta dan gajah bisa menjadi contoh sederhana. Orang pertama berpikir bahwa seekor gajah berbadan lebar dan kenyal, karena objek yang ia pegang adalah daun telinga. Orang kedua yang memegang kaki gajah mendefinisikan gajah sebagai hewan yang bertubuh bulat, panjang, dan tegak lurus. Dan, orang ketiga yang meraba belalai gajah mendefinisikan gajah sebagai hewan kecil yang amat lentur.
Begitulah, paradigma seseorang ditentukan oleh pencerapan atau daya tangkap inderawi, terutama mata. Dalam dongeng tersebut menjadi jelas bagaimana fungsi mata. Perspektif seseorang menjadi kurang luas saat syaraf otak hanya menterjemahkan realita (yang ditangkap kornea mata) secara terpotong-potong, tidak komprehensif. Meski harus diakui bahwa perspektif (mata) seseorang tidak selalu menentukan seberapa luas cakupan fenomena yang dilihatnya. Ada berbagai faktor yang memengaruhi seseorang mengambil kesimpulan atau keputusan. Sebab, mata juga mengalami tipuan atau fatamorgana saat kornea mata tidak mampu melihat benda dengan sempurna.
Yang menarik, mata bisa mencerahkan hidup seseorang. Lihat bagaimana seorang Totto-chan, anak kecil seusia SD yang lebih tertarik untuk melihat pemusik jalanan daripada papan tulis di kelasnya. Totto-chan, tokoh anak kecil yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi (Gramedia:2004) pada akhirnya harus mengalah pada hasratnya sendiri untuk lepas dari kejenuhan rutinitas di sekolah. Totto-chan lebih memilih (dan menyukai) bersekolah di sekolah bekas gerbong kereta. Ini hanya satu contoh kecil atas rangsangan benda yang dilihat oleh organ mata. Berangkat dari pengalaman melihat, Totto-chan mengubah haluan pemikiran dan sudut pandangnya tentang sekolah. Objek penglihatan menjadi stimulus untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Inilah mengapa, mata secara keseluruhan penting untuk diperhatikan, dirawat dan dijaga.
Hidup sebagai pilihan!
Mata menjadi jendela yang mengantar manusia pada dunia. Dan dengan mata pula orang menjadi sempurna saat aksi Ronaldinho memainkan bola secara elastico, menarik, dan mengagumkan.
Namun, manusia tetap memiliki batas, yang disebut dengan kerapuhan. Kerapuhan diselewengkan menjadi kealphaan. Sementara, kealphaan menjadi tempat manusia yang paling afdol, untuk tidak mengatakan ceroboh atau ngawur. Untunglah titik nadir atas kerapuhan itu mampu menghantar manusia ke pusat kedamaian yang bersemayam dalam diri Sang Khalik itu sendiri. Dari sanalah, keragu-raguan, sekali lagi menyelamatkan iman (kekaguman secara menakjubkan kepada Yang Esa). Keberadaan Yang Esa menuntun kita untuk mensyukuri apa yang diterima, termasuk di dalamnya adalah anugerah penglihatan yang normal ataupun tidak normal.
Namun, kepedulian terhadap kesehatan diri dan mata memang menjadi tugas berat bila belum menjadi kebutuhan. Sekali lagi, di saat kapan pun dan di manapun, semua hal mengandung pilihan. Hidup memang pilihan. Tepatnya, kita senantiasa dihadapkan pada banyak pilihan, dan kita harus memutuskan dengan cepat dan tepat. Jangan dibayangkan bahwa pilihan itu selalu bersifat besar dan membutuhkan energi berlebih untuk menyelesaikannya atau menentukannya.
Keputusan untuk melakukan pilihan selalu terjadi setiap saat. Saat Anda bangun tidur, Anda harus segera memutuskan untuk membuka mata, bergerak (beranjak dari tempat tidur), membersihkan badan dan seterusnya. Anda bisa memilih untuk memakai shampo atau tidak. Kemudian Anda berpakaian. Anda lagi-lagi harus membuat keputusan untuk memakai warna yang cerah, gelap atau kembang/bunga. Begitu seterusnya. Setiap perjalanan waktu Anda adalah kumpulan keputusan yang Anda buat setiap saat; setiap detik. Dan, Anda harus menentukannya suka atau tidak suka, mau atau tidak mau
Melihat optimisme Miles Hilton, nampaknya kita pantas berkaca diri. Meski ia tidak bisa melihat keindahan dunia dengan kedua matanya secara fisik, tetapi rasanya nikmat keindahan dunia jauh lebih bisa dirasakannya sekarang. Keberhasilannya menaklukan kegelapan matanya layak menjadi buah bibir yang menginspirasi kehidupan.
Mungkin kita masih bisa melihat keindahan pelangi saat hujan mereda, atau warna-warni bunga di taman-taman bunga. Pencerapan akan berbagai ilmu dan informasi dari banyak buku yang kita baca, mungkin masih bisa kita nikmati dengan sempurna. Namun, kemauan dan kesungguhan untuk menjalani kehidupan secara sehat jauh lebih membahagiakan. Sebagaimana seorang pelari estafet yang berharap kemenangan, tetapi bila ia tidak pernah memulai langkah pertamanya, kemenangan itu hanya sebuah mimpi. You cannot win if you do not begin!
Ingatlah bahwa kemewahan tidak selalu menjamin bahwa orang akan selamat dari penyakit. Siapa pun tidak akan bisa mengingkari sebuah rasa sakit, atau pada saat masa jatuh sakit itu tiba. Tidak seorang pun bisa menghindari "naas" bila penyakit mencederai kesehatan kita. Jadi, mulailah dari sekarang! Lakukan yang terbaik untuk diri sendiri, orang lain, dan dunia secara keseluruhan. Sebab walau bagaimanapun, Andalah yang berhak memilih, mau menjadi sehat atau sakit?
Miles Hilton Barber, seorang tuna netra asal Inggris, berhasil mendarat sempurna di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 15 April 2007 lalu. Miles, didampingi Richard Meredith Hardy, yang juga seorang tuna netra menerbangkan pesawat microlight Pagasus Mainair GT450 mengelilingi dunia, termasuk mengunjungi Indonesia. Misi Miles sangat jelas, yakni penggalangan dana bagi para tuna netra di sejumlah negara berkembang. Miles sendiri dikenal amat berprestasi. Hampir di sepanjang hidupnya, Miles telah memiliki pengalaman terbang lebih dari 250 mil melewati Antartika, melewati 159 mil Gurun Sahara, mendaki Gunung Himalaya, dan bahkan pernah mengikuti Grand Prix Malaysia untuk orang buta. Sepertinya, ketidaksempurnaan inderawi bukan merupakan halangan berarti bagi seorang Miles.
Hubungan kesalingan
Kehadiran Miles di Indonesia mengejutkan banyak orang sekaligus mengundang decak kagum. Betapa tidak. Kondisi inderawi yang tak sempurna justru tidak membuat Miles menyerah dan tunduk pada nasib. Ia berjuang dan terus bertumbuh dalam pengharapan. Ia mampu mengubah ketidakberdayaan menjadi kebergunaan yang dahsyat. Di sinilah letak kemenangan Miles sebagai seorang manusia.
Sebagaimana dihayati Miles, ada satu kebutuhan dalam diri manusia untuk memberi sesuatu kepada sesamanya. Ia menempatkan diri sebagai makhluk yang bernilai bila hidupnya berguna dirinya sendiri dan bagi orang lain (Jean Paul Sartre). Sebab, manusia adalah bagian dari dunianya, komunitasnya, dan alam semesta secara keseluruhan.
Gabriel Marcel memandang pentingnya konsep ke-aku-an di antara ke-kamu-an. Ada aku karena ada kamu. Ada kamu karena ada aku, dan seterusnya. Masing-masing diri manusia menyumbang fungsi dan peran berbeda, yang menjadikannya semakin bermanfaat bagi orang lain. Man for the others, begitulah kaul yang kerap diucapkan para rohaniwan.
Bagaimana mungkin dalam diri seorang tuna netra tumbuh kesadaran akan solidaritas manusiawi yang tulus untuk membantu orang lain yang bernasib sama? Jawabannya bisa saja mungkin, bila kesadaran itu telah dihidupi menjadi satu kebutuhan. Solidaritas akan tumbuh bila dalam diri seseorang ada mutiara ketulusan, menjadi sebuah solidaritas manusiawi (Richard Rorty). Solidaritas manusiawi merupakan solidaritas yang tidak dibuat-dibuat, lahir dari kedalaman hati, dan tentu saja tidak berharap pamrih jasa apalagi materi. Menolong karena ingin menolong, membantu karena ingin membantu, dan seterusnya. Hal itu diyakini pula oleh Thomas Merton, "Nobody is an island" (1955). Tidak seorang pun manusia sanggup hidup sendiri. Ia selalu butuh orang lain, entah dalam kapasitas yang kecil atau besar. Dari situlah, manusia sebagai homo socius menempatkan dirinya sebagai seorang Adam yang membutuhkan Hawa, sebagai teman hidup.
Bertolak dari pengalaman Miles di atas bisa ditarik satu simpul kecil tentang kesalingtergantungan manusia dengan sesamanya. Dan, Miles telah mampu menempatkan ke"buta"an matanya sebagai satu inspirasi yang mengerakkan kepeduliannya. Hal ini menarik. Tata alam yang normal seolah dijungkirbalikkan oleh "kepiawaian" (profesionalisme) Miles mengemudikan pesawat. Jika demikian, hidup memang penuh kejutan. Ia adalah misteri, sebagaimana fakta masa depan atau kematian yang selalu tersembunyi (Martin Heidegger). Kenormalan inderawi tidak selalu menjadi jaminan kesuksesan. Demikian pula sebaliknya, ketidaklengkapan inderawi tidak selalu menjatuhkan seseorang dalam kubangan frustasi dan kegagalan.
Tinggal bagaimana mata hati kita melihat hidup secara positif, dinamis, dan paradigmatis. Sebab seringkali kita tidak mensyukuri apa yang sudah diraih, dan lebih sering menyesali apa yang belum diraih (Schopenhauer).
Mata dan cahaya
Jujur, kisah hidup Miles benar-benar menyentuh bidang-bidang permenungan hati yang terdalam, terutama bagi kita yang berpenglihatan normal. Faktanya, kita (termasuk saya) sering mengabaikan kesehatan, terutama mata. Makanan apapun menjadi halal saat diri larut dalam kesenangan dan kenikmatan. Atau mungkin kita lebih memilih duduk melihat TV sambil ngemil daripada berolahraga dan mengeluarkan keringat. Begitu juga saat membaca buku, rasanya lebih nikmat bila dibaca sambil tiduran dan memeluk guling daripada duduk di kursi dalam posisi tegak. Di lain waktu, terkadang kita enggan untuk melakukan relaksasi setelah berjam-jam di depan layar komputer. Kita pun jarang menggunakan pelindung muka saat berkendaraan di jalan raya.
Anehnya, kebiasaan-kebiasaan buruk ini seringkali dilakukan tanpa sadar, tentu dengan berbagai macam alasan. Sebagian menjawab karena malas, sebagian lain mungkin akan menjawab, sudah tradisi, sih! Yang lain lagi mungkin hanya berekspresi cuek.
Tidak ada yang bisa dipersalahkan dari perilaku-perilaku tersebut. Setiap orang memperlakukan kesehatan mata secara berbeda. Namun, alangkah baiknya bila kesehatan mata dimahkotakan sebagai pilihan yang penting. Menjaga kesehatan mata memang sebuah pilihan, dibandingkan dengan pilihan-pilihan hidup yang lain.
Namun, bila kita mengabaikan kesehatan mata bisa dikatakan bahwa itu adalah tindakan gegabah. Coba kita putar ulang layar kehidupan di belakang kita. Bagaimana kita bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat? Kesatuan organ-organ tubuh yang berfungsi normal, didukung dengan mata yang sehat, kita tentu bisa melewati tikungan demi tikungan dengan baik. Kita bisa menghindari kecelakaan yang nyaris merenggut, saat mata kita awas mengamati jalan.
Mata juga menentukan paradigma kita terhadap dunia. Dongeng menjelang tidur mengenai tiga orang buta dan gajah bisa menjadi contoh sederhana. Orang pertama berpikir bahwa seekor gajah berbadan lebar dan kenyal, karena objek yang ia pegang adalah daun telinga. Orang kedua yang memegang kaki gajah mendefinisikan gajah sebagai hewan yang bertubuh bulat, panjang, dan tegak lurus. Dan, orang ketiga yang meraba belalai gajah mendefinisikan gajah sebagai hewan kecil yang amat lentur.
Begitulah, paradigma seseorang ditentukan oleh pencerapan atau daya tangkap inderawi, terutama mata. Dalam dongeng tersebut menjadi jelas bagaimana fungsi mata. Perspektif seseorang menjadi kurang luas saat syaraf otak hanya menterjemahkan realita (yang ditangkap kornea mata) secara terpotong-potong, tidak komprehensif. Meski harus diakui bahwa perspektif (mata) seseorang tidak selalu menentukan seberapa luas cakupan fenomena yang dilihatnya. Ada berbagai faktor yang memengaruhi seseorang mengambil kesimpulan atau keputusan. Sebab, mata juga mengalami tipuan atau fatamorgana saat kornea mata tidak mampu melihat benda dengan sempurna.
Yang menarik, mata bisa mencerahkan hidup seseorang. Lihat bagaimana seorang Totto-chan, anak kecil seusia SD yang lebih tertarik untuk melihat pemusik jalanan daripada papan tulis di kelasnya. Totto-chan, tokoh anak kecil yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi (Gramedia:2004) pada akhirnya harus mengalah pada hasratnya sendiri untuk lepas dari kejenuhan rutinitas di sekolah. Totto-chan lebih memilih (dan menyukai) bersekolah di sekolah bekas gerbong kereta. Ini hanya satu contoh kecil atas rangsangan benda yang dilihat oleh organ mata. Berangkat dari pengalaman melihat, Totto-chan mengubah haluan pemikiran dan sudut pandangnya tentang sekolah. Objek penglihatan menjadi stimulus untuk mengambil keputusan dan menentukan pilihan. Inilah mengapa, mata secara keseluruhan penting untuk diperhatikan, dirawat dan dijaga.
Hidup sebagai pilihan!
Mata menjadi jendela yang mengantar manusia pada dunia. Dan dengan mata pula orang menjadi sempurna saat aksi Ronaldinho memainkan bola secara elastico, menarik, dan mengagumkan.
Namun, manusia tetap memiliki batas, yang disebut dengan kerapuhan. Kerapuhan diselewengkan menjadi kealphaan. Sementara, kealphaan menjadi tempat manusia yang paling afdol, untuk tidak mengatakan ceroboh atau ngawur. Untunglah titik nadir atas kerapuhan itu mampu menghantar manusia ke pusat kedamaian yang bersemayam dalam diri Sang Khalik itu sendiri. Dari sanalah, keragu-raguan, sekali lagi menyelamatkan iman (kekaguman secara menakjubkan kepada Yang Esa). Keberadaan Yang Esa menuntun kita untuk mensyukuri apa yang diterima, termasuk di dalamnya adalah anugerah penglihatan yang normal ataupun tidak normal.
Namun, kepedulian terhadap kesehatan diri dan mata memang menjadi tugas berat bila belum menjadi kebutuhan. Sekali lagi, di saat kapan pun dan di manapun, semua hal mengandung pilihan. Hidup memang pilihan. Tepatnya, kita senantiasa dihadapkan pada banyak pilihan, dan kita harus memutuskan dengan cepat dan tepat. Jangan dibayangkan bahwa pilihan itu selalu bersifat besar dan membutuhkan energi berlebih untuk menyelesaikannya atau menentukannya.
Keputusan untuk melakukan pilihan selalu terjadi setiap saat. Saat Anda bangun tidur, Anda harus segera memutuskan untuk membuka mata, bergerak (beranjak dari tempat tidur), membersihkan badan dan seterusnya. Anda bisa memilih untuk memakai shampo atau tidak. Kemudian Anda berpakaian. Anda lagi-lagi harus membuat keputusan untuk memakai warna yang cerah, gelap atau kembang/bunga. Begitu seterusnya. Setiap perjalanan waktu Anda adalah kumpulan keputusan yang Anda buat setiap saat; setiap detik. Dan, Anda harus menentukannya suka atau tidak suka, mau atau tidak mau
Melihat optimisme Miles Hilton, nampaknya kita pantas berkaca diri. Meski ia tidak bisa melihat keindahan dunia dengan kedua matanya secara fisik, tetapi rasanya nikmat keindahan dunia jauh lebih bisa dirasakannya sekarang. Keberhasilannya menaklukan kegelapan matanya layak menjadi buah bibir yang menginspirasi kehidupan.
Mungkin kita masih bisa melihat keindahan pelangi saat hujan mereda, atau warna-warni bunga di taman-taman bunga. Pencerapan akan berbagai ilmu dan informasi dari banyak buku yang kita baca, mungkin masih bisa kita nikmati dengan sempurna. Namun, kemauan dan kesungguhan untuk menjalani kehidupan secara sehat jauh lebih membahagiakan. Sebagaimana seorang pelari estafet yang berharap kemenangan, tetapi bila ia tidak pernah memulai langkah pertamanya, kemenangan itu hanya sebuah mimpi. You cannot win if you do not begin!
Ingatlah bahwa kemewahan tidak selalu menjamin bahwa orang akan selamat dari penyakit. Siapa pun tidak akan bisa mengingkari sebuah rasa sakit, atau pada saat masa jatuh sakit itu tiba. Tidak seorang pun bisa menghindari "naas" bila penyakit mencederai kesehatan kita. Jadi, mulailah dari sekarang! Lakukan yang terbaik untuk diri sendiri, orang lain, dan dunia secara keseluruhan. Sebab walau bagaimanapun, Andalah yang berhak memilih, mau menjadi sehat atau sakit?
*Y. Budi U (Ketua Kom.Studi INSPICIO).
Artikel ini pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan
yang diselenggarakan PT ROHTO-MENTHOLATUM, Mei 2007
Sumber bacaan:
Magee, Bryan, 2005. Memoar Seorang Filosof-Pengembaraan di Belantara Filsafat. Bandung: Mizan.
Magnis-Suseno, Franz. 2006. Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.
Rodgers, Buck dan Irv Levey. 1989. Menggali yang Terbaik dari Diri Sendiri dan Orang Lain. Mitra Utama: Jakarta.
_______ "Pilot Tuna Netra Menjelajahi Dunia", Banjarmasin Post, 16 April 2007.
Tetsuko Kuroyanagi. 2004. Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela. Jakarta: Gramedia
Magee, Bryan, 2005. Memoar Seorang Filosof-Pengembaraan di Belantara Filsafat. Bandung: Mizan.
Magnis-Suseno, Franz. 2006. Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.
Rodgers, Buck dan Irv Levey. 1989. Menggali yang Terbaik dari Diri Sendiri dan Orang Lain. Mitra Utama: Jakarta.
_______ "Pilot Tuna Netra Menjelajahi Dunia", Banjarmasin Post, 16 April 2007.
Tetsuko Kuroyanagi. 2004. Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela. Jakarta: Gramedia
